16.10.10

jalan merdeka yang tidak memerdekakan

kisah singkat di penghujung senja
lagi-lagi... senja selalu membuatku bergairah
memotret suasana dengan kedalaman rasa
----

dalam perjalanan pulang menuju rumah,
senja itu... kunaiki sebuah angkot jurusan Margahayu-Ledeng.
rute angkot tersebut salah satunya akan melewati kawasan sekitar BIP di jalan Merdeka.
Aku yang duduk persis di belakang sopir, seketika tertarik menyimak pembicaraan antara sang sopir angkot dengan penumpang laki-laki yang ada di sampingnya.
Ooow... mereka sedang membicarakan Bandung Blossom. Sebuah perhelatan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bandung dalam rangka hari jadi Kota Bandung yang ke-200.

"macet. macet dimana-mana! ahhh!" keluh sang sopir.
"iya nih, pak.. macet terus. rute angkot diputar-puter ya?" timpal lelaki itu.
"iya. entah, sekarang akan diarahkan kemana lagi ini angkot. abis-abisin bensin aja!" jawab sopir.
"yang kayak gini niy.. yang bikin sengsara. itu acara di Balai Kota kan buat orang gede aja. kita-kita yang kecil gini makin sengsara. jalan merdeka ditutup. padahal banyak kan angkot yang rutenya lewat situ." seloroh lelaki itu.
"iyah. banyak banget angkot yang lewat jalan merdeka. diputar-puter jadinya. nih.. pengen tau nih.. sekarang akan diputer kemana lagi. harusnya kita tantangin tuh orang-orang gede itu!" protes sang sopir.
"iyah. yang jelas yang gede semakin gede. yang kecil semakiiiiin kecil!" ucap lelaki itu.

aku.
bergeming.
ternyata, jalan Merdeka sungguh tidak memerdekakan rakyat yang melewatinya.
...
dan sebuah perhelatan Bandung Blossom pun tetap digelar. namun apakah para pembesar itu tidak memikirkan dampak dari acara tersebut (salah satunya dengan memblokade jalan Merdeka) bagi warga/ rakyat lainnya, seperti para sopir angkot itu???
jawabannya sudah pasti, TIDAK.
arggghh..... buatku tambah geram saja kepada para pembesar itu! Bah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar